Rabu, 02 Juli 2014

Pemupukan Padi Sawah

Ada gejala penurunan produksi padi tiga tahun belakang ini pada sebagian daerah produksi padi. Bahkan Dinas Pertanian Tanaman Pengan Propinsi Sulawesi Selatan telah mengingatkan agar jangan sampai bantuan pemerintah digunakan untuk menurunkan produksi.

Ada hipotesa saya bahwa petani telah salah dalam penggunaan pupuk akibat berubahnya pupuk yang tersedia bagi pertanian yang dulunya adalah Urea, TSP (SP36), KCl, dan ZA menjadi NPK 15:15:15 dan Urea.

Pada kesempatan monitoring dan evaluasi kegiatan pertanian bulan lalu saya menanyakan penggunaan pupuk langsung pada ketua kelompok tani dan ternyata pada tiga kecamatan mereka mengungkapkan cara penggunaan pupuk di lapangan sekarang ini adalah : Pupuk Dasar : Urea; Pupuk Susulan I : Urea dan Pupuk susulan II : NPK 15:15:15. Saya kemudian menjelaskan mengenai sifat pupuk tersebut termasuk kecepatan larut/tersedianya.

Selanjutnya dijelaskan kepada mereka cara pemupukan padi sederhana hasil kajian BPPTP sebagai berikut :






















Mudah-mudahan selanjutnya ada peningkatan produksi padi untuk menuju kemandirian pangan.
Terima kasih.


Selasa, 21 Januari 2014

Uji Coba Mesin Tanam

Belopa; Jumat 17 Januari 2014. Usai upacara Hari Kesadaran Nasional, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan Kab. Luwu beserta staf dan mantri  tani se-Kab. Luwui melakukan ujicoba penggunaan Mesin Tanam Padi di Lahan Sawah Deplot Pertanian yang berada tepat di belakang Kantor Dinas. Hadir pula dalam acara ini adalah petugas dari ATPM yang memberikan bimbingan sebelum alat dicoba. 
Sebagai mana biasanya dalam penggunaan alat baru semua masih harus belajar agar lebih menguasai penggunaan alat tersebut.
Pada kesempatan ini Kepala Dinas, Ir. Andi Pangerang, mengatakan bahwa alat serupa akan ditambah jika masyarat petani memberi respon yang positif terhadap penggunaan alat ini dan siap melakukan tanam pindah. 
Mesin Tanam Padi telah ada pada Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan Kabupaten Luwu sebanyak dua unit dan siap dioperasikan. 
Tampak dalam gambar Kepala Dinas sedang menjalankan alat tersebut.

Jumat, 07 Desember 2012

Calon Varietas Padi Sawerigading

Bua, Jumat 7 Desember 2012, Bupati Luwu bersama Pimpinan Muspida melakukan panen padi calon varietas sawerigading pada lokasi demplot seluas 10 Ha. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Beberapa Kepala Dinas, Camat, Kepala Desa Se-Kecamatan Bua, Aparat pertanian dan Kelompok Tani. Calon varieatas padi Sawerigading ini adalah salah satu kontrak kinerja antara Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan Kabupaten Luwu dengan Bupati Luwu. 
Kegiatan ini adalah wujud kesungguhan Pemerintah Kabupaten Luwu dalam meningkatkan produksi beras. Untuk maksud tersebut Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan Kabupaten bekerja sama dengan seorang putra luwu yang sudah ternama dalam pengembangan perbenihan padi yaitu Ir. Shagir Sama.
Menurut Ir. Shagir Sama bahwa Calon Varietas Padi Sawerigading adalah merupakan hasil persilangan dari Varietas Celebes, Membramo dan IR-66 dengan rata-rata produktivitas 7,5 ton GKP / ha. Calon varietas ini juga mempunyai kelebihan yaitu tidak disukai tikus, dan jika terserang hama tikus maka tanaman ini cepat pulih. Disamping itu kelebihan lain dari calon varietas ini cepat tumbuh, lebih cepat dari rumput (gulma). Dengan demikian diharapkan calon varietas ini dapat menjadi pilhan petani untuk ditanam di sawah disampaing varietas yang sudah ada.
Pada kesempatan ini Bupati Luwu juga menyerahkan bantuan kendaraan dinas untuk mantri tani berupa motor trail dan mencoba mesin panen combine harvester.


Selasa, 13 November 2012

Kalender Tanam Kab. Luwu 2012 - 2013

’’Saat ini pemerintah telah memberikan panduan ke daerah secara maksimal. Diharapkan, petani yang hendak menanam padi dapat mengikuti kalender musim tanam yang telah disiapkan tersebut karena situasi dan kondisi iklim sudah dirangkum dalam peta kalendar tanam itu yang merupakan hasil koordinasi Kementan dengan BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika),” kata Menteri Pertanian, Dr. Ir. Suswono, MMA saat melakukan dialog dengan para Kepala Dinas Lingkup Kementerian Pertanian seluruh Indonesia dalam acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan Pertanian (Musrenbangtan) Tahun 2012 pada hari Rabu (23/5/2012). 

Kalender tanam dapat diakses melalui website kementerian pertanian, tetapi untuk mempermudah maka kami rangkum agar lebih mudah diakses khusunya bagi pemerhati pertanian di Kab. Luwu. Ada 3 hal yang kami anggap penting untuk diketahu yaitu :
  1. Kalender Tanam dalam bentuk peta dapat didownload disini.
  2. Kalender Tanam dalam bentuk tabel yang dibagi berdasarkan kecamatan, dapat didownload disini
  3. Kebutuhan pupuk tiap kecamatan yang ditampilkan dalam bentu tabel. Kami hanya menampilkan kebutuhan pupuh yang didasari pada penggunaan pupuk NPK yang bersubsidi. Tabel tersebut dapat didownload disini.

Harapan saya, meskipun sudah ada kalender sebagai pebagai pedoman, tetapi  kita masih tetap mempertimbangkan ketersediaan air, hama dan penyakit dalam menetapkan jadwal tanam kita.

Selasa, 23 Oktober 2012

Indeks Kelaparan Golbal (GHI) 2012

Apakah Negara kita sudah bebas dari kelaparan? Jawabnya tidak. Bahkan negara kita ternasuk rawan kelaparan. Indikator negara dengan berbagai tingkatan terhadap ancaman keparan dikeluarkan oleh lebaga dunia yang bernama IFPRI yang dikenal dengan nama GHI.
Global Hunger Index adalah salah satu metode untuk membandingkan antara satu negara dengan negara lain. Dengan demikian kita memahami kondisi bangsa kita, baik dalam hal kelbihan maupun kekurangan sekaligus dapat belajar dari kemajuan bangsa lain. Tentu dalam hai ini jika ada kekurangan tidak serta-merta menyalahkan pemerintah, tetapi setiap komponen bangsa mempunyai tugas dan fungsi masing-masing dalam mengurangi indeks kelaparan suatu wilayah. Setiap komponen bangsa, mulai dari petani, pedagang, industri pangan, ulama, petugas kesehatan, perwakilan rakyat, PNS dalam tugasnya masing-masing hingga pemeritah sebagai pengambil kebijakan.
Oktober 2012 ini, telah diterbitkan GHI yang menampatkan negara kita Indonesia sebagai negara rawan pangan (kategori "serious"). Dalam pembagiannya ada 5 tingkatan dan dari lima tingkatan tersebut dibagi dua yaitu negara dengan GHI 0-4,9 yang relatif aman dari bahaya kelaparan dan >= 5. Dari negara-negara dengan GHI >=5 Indonesia menduduki rangking 30 dengan angka indeks 12,0; philipina rangking 31 dengan angka indeks 12,2. Diatas negara kita ada Malaysia pada rangking 3 dengan angka indeks 5,2; Tahiland pada rangking 18 dengan angka indeks 8,1 dan Vietnam pada rangking 26 dengan angka indeks 11,2.
Grafik perkembangan GHI untuk negara Asia Timur, Asia Selatan dan Asia Tenggara dapat dilihat pada grafik beikut :
Data mengenai Indeks Kelaparan Global yang dikeluarkan oleh Lemabaga Duna IFPRI (International Food Policy Research Institute) dapat diunduh disini


Jumat, 05 Oktober 2012

Indeks Kelaparan Global


Negara Kita masih rawan kelaparan ? 

Membandingkan kemajuan negara kita dibandingkan dengan negara lain atau 
negara tetangga mungkin perlu dilakukan sebagai cermin dalam mengukur 
capaian kemajuan pembangunan. Salah satu bidang yangdapat dijadikan 
tolak ukur dari sekian banyak sudut pandang adalah Indeks Kelaparan Global.  Hal ini menjadi pilihan saya karena menurut saya (yang mungkin berbeda 
dengan pendapat anda) masih banyak (relatif) kasus kelaparan di negara 
kita baik yang kita lihat sendiri maupun ditayangkan melalui  televisi, 
maupun media massa lainnya. Dipadang dalam perspektif statistik tentu 
ada angka entah berapa persen, tetapi bagi keluarga yang mengalami bisa 
jadi itu artinya "laksana ayam mati dilumbung padi".  Dia melihat banyak  makanan disekitarnya tapi itu bukan miliknya, tidak terjangkau, bahkan 
raskin pun  harus ditebus dengan Rp. 1.000,- per kilogram..

Indeks Kelaparan Global (Global Hunger Index = GHI) adalah alat 
statistik yang multidimensi yang  digunakan untuk menggambarkan 
keadaan situasi kelaparan pada suatu negara. GHI mengukur kemajuan  dan kegagalan dalam perang global melawan kelaparan. GHI diperbarui 
setahun sekali.
Indeks ini diadopsi dan dikembangkan lebih lanjut oleh International Food 
Policy Research Institute (IFPRI). GHI tahun  2011dihitung untuk 122 negara 
berkembang dan negara dalam transisi , 81 diantaranya  peringkat aman.
Setiap tahun, laporan GHI berfokus pada topik utama: pada tahun 2010 Indeks 
menyoroti  kekurangan gizi anak usia dini antara anak-anak muda. 
GHI 2011 berfokus pada peningkatan  harga pangan yang lebih tidak stabil 
dari tahun-tahun terakhir dan dampak perubahan ini terhadap kelaparan  dan kekurangan gizi. Laporan ini menyimpulkan bahwa kenaikan harga dan 
volatilitas harga mengurangi  pengeluaran rumah tangga miskin pada berbagai 
barang dan jasa penting dan mengurangi kalori yang  mereka konsumsi. Gizi
masyarakat miskin juga dipengaruhi oleh pilihan mereka untuk beralih ke yang  lebih murah, berkualitas rendah, dan kurang mikronutrien.

Untuk mencerminkan sifat multidimensi kelaparan, GHI menggabungkan 
tiga indikator berbobot sama  dalam satu nomor indeks:
  1. Gizi: proporsi gizi sebagai persentase dari populasi (mencerminkan pangsa penduduk dengan  asupan kalori cukup); 
  2. Anak kurus: proporsi anak-anak muda dari usia lima tahun yang berat badannya (berat badan  rendah untuk usia mencerminkan wasting, pertumbuhan terhambat, atau keduanya), yang merupakan  salah satu indikator gizi anak, dan 
  3. Kematian anak: angka kematian anak-anak muda dari usia lima tahun (sebagian mencerminkan  sinergi fatal asupan makanan tidak memadai dan lingkungan yang tidak sehat).

Indeks GHI peringkat negara pada skala 100-poin. Nol adalah skor yang terbaik 
(kelaparan tidak ada),  dan 100 adalah yang terburuk, walau ini tidak tercapai dalam praktek.

Grafik GHI untuk wilayah Asia Selatan, Timur dan Tenggara 
dari tahun 1990 s/d 2011 di atas  menunjukkan bahwa 
bahwa Negara Kita meskipun masih dalam kategori "rawan", 
tetapi sudah ada  kemajuan dari periode sebelumnya. 
Cuma kita kalah cepat dari Philipina dan Vietnam. 

Senin, 01 Oktober 2012

Kekeringan Mengancam Pertanian


Kekeringan mulai mengancam pertanaman padi di Luwu,  Foto di samping adalah salah satu contoh di Desa Tanarigella Kec. Bua. Beberapa lokasi pertanaman di tempat lain juga mengalami hal serupa.
Kondisi tanah yang retak biasanya menyebabkan kurangnya anakan padi, meskipun kemudian diairi dan sampai panen. Hal ini jelas akan mengurangi produksi padi.
Penyebab kekeringan ini adalah karena kurangnya hujan yang turun dan debit air irigasi yang berkurang. 
Hal ini mungkin merupakan dampak dari kerusakan hutan pada daerah tangkapan hujan (maksud saya keadaan daerah tangkapan hujan sudah jauh berbeda dari 20 tahun yang lalu). Sementara sarana irigasi masih dalam kondisi baik.

Untuk mengatasi kekeringan ini saya sarankan agar:
  1. Mencari sumber-sumber air yang masih dapat dipergunakan.
  2. Mengatur pergiliran air sedemikian rupa agar jagan sampai tanah menjadi retak kemudian mendapat giliran.
  3. Melakukan koordinasi dengan pihak-pihak yang dapat membantu mengatasi masalah kekeringan.

BENDUNG SUPLESI RADDA - ULASAN JANUARI 2026

Bendung Suplesi Radda yang terletak di sungai Salu Suso Kecamatan Belopa Kabupaten Luwu menjadi terdampak bencana banjir dan longsor pada bu...